Banjir di Ngawi, Jawa Timur, Ahad (30/12) siang, sudah surut. Cuaca cerah bahkan cukup panas. Kondisi ini dimanfaatkan warga seperti di Dusun Dungus, Ngawi, untuk mulai membersihkan rumah dan barang-barang mereka dari lumpur sisa banjir. Demikian laporan reporter Liputan 6 SCTV Nastiti Lestari.
Saat ini, warga masih kesulitan air bersih. Ini disebabkan aliran air dari perusahaan air minum setempat belum mengalir. Di tambah lagi listrik mati karena ada sebagian wilayah yang masih terendam banjir.
Sementara itu, sebagian korban banjir yang merupakan umat Kristiani pagi tadi sudah beribadah di Gereja Behtel Indonesia (GBI) di Jalan dokter Wahidin. Gereja ini sempat terendam banjir sekitar setinggi dua meter. Menurut Stephanus Djoko, pendeta GBI, jemaat sepakat untuk membatalkan Natal yang seharusnya dirayakan pada 27 Desember 2007. Mereka bakal menggunakan dana Natal untuk bakti sosial bagi korban banjir.
Berbeda dengan Ngawi, banjir di Kota Bojonegoro justru semakin meluas dengan ketinggian air lebih dari semeter. Ini disebabkan tanggul penahan banjir Sungai Bengawan Solo yang jebol sejak kemarin belum bisa diperbaiki.
Kondisi ini memaksa warga mengungsi ke lokasi yang lebih aman atau ke rumah saudara. Terbatasnya jumlah perahu karet membuat proses evakuasi, terutama di daerah yang paling parah, seperti Ledok Kulon dan Ledok Wetan. Hingga siang ini, tim Badan SAR Nasional (Basarnas) dan satuan koordinasi pelaksana Pemerintah Kabupaten Bojonegoro terus memberikan bantuan bahan makanan kepada pengungsi di sejumlah desa yang masih terisolir akibat banjir,
Rabu, 05 Maret 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar