Kamis, 13 Maret 2008

Isu Soeharto Cina, Siapa Bapaknya

TAK BISA dibayangkan bagaimana keabsahan Soeharto sebagai presiden selama 32 tahun, bila ternyata dia bukanlah orang Indonesia asli.
Pergunjingan tentang Soeharto keturunan Cina itu, dilontarkan oleh Mashuri, SH. Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (1969-1974) itu, berbicara kepada Liberty (grup Jawa Pos/grup tablod OPOSISI) bahwa silsilah Soeharto yang selama ini dipublikasikan - selama Soeharto masih berkuasa - yang benar hanya dari sisi ibunya. Adapun tentang bapaknya, di berbagai tulisan tentang otobiografi Soeharto - yang ada saat ini - hampir semuanya salah.
Yang benar? "Tidak jelas. Campur-baur. Antara orang Cina dan Jawa", kata Mashuri yang juga mantan Menteri Penerangan RI (1974-1979) ini di rumahnya di Solo. "Dia bisa disebut lembu peteng (sebutan untuk anak-anak yang di lahirkan tanpa ayah yang jelas, red)," tandasnya. Mengatakan lembu peteng Mashuri menekankan keyakinan bahwa ayah Soeharto keturunan Cina.
Siapakah dia ? Di Jawa Tengah, belakangan ini beredar kisah.
Konon, di Yogyakarta pada awal abad sembilan belas, ada pedagang cukup terpandang, yang rajin berhubungan dengan rakyat Jawa Tengah. Pedagang ini cukup populer di masa itu. Maklum, dia tidak saja menjual barang dagangannya yang dibeli dari daerah lain, tapi juga karena dia membeli hasil bumi penduduk untuk diperdagangkan.
Kegiatan pedagang ini kian hari kian besar. Oleh karena itu dia membutuhkan orang-orang yang bisa membantunya. Dari hubungan seperti itulah lantas pedagang ini berkenalan dengan wanita miskin tapi berwajah lumayan. Namanya Sukirah. Tidak jelas, bagaimana kemudian hubungan antara pedagang ini dengan Sukirah.
Yang jelas, menurut Mashuri, Sukirah itulah ibu kandung Soeharto. "Dia adalah wanita miskin dari Desa Kemusa, Argomulyo, Bantul, Yogyakarta."
Sukirah, kendati miskin, memiliki beberapa kelebihan. Ulet, daya juangnya untuk hidup tinggi. Dan setelah Soeharto lahir, memiliki daya linuwih. Ini karena dia pernah bertapa di atas genting rumahnya selama 40 hari. Kegiatan bertapa itu dilakukan setelah Soeharto lahir.
"Oleh karena itu wajar bila Soeharto juga memiliki kelebihan. Warisan dari ibunya. Aura ibunya. Dengan demikian wajar pula bila Soeharto sulit dikalahkan," kata lelaki berkacamata ini.
Kelinuwihan Soeharto tidak saja dari ibunya. Tapi juga dari lelaki sakti asal Wonogiri. Lelaki itu, sering disebut dukun. Namanya Daryatmo. Oleh karena itu nama Daryatmo begitu melekat pada diri Soeharto. Dalam bukunya, Soeharto: Ucapan dan Tindakan nama Daryatmo disebut-sebut.
Soeharto mengakui bahwa Daryatmo banyak memberi inspirasi dalam perjalanan hidupnya. Bahkan sampai Soeharto menjadi presiden. Setiap bulan, kata Mashuri, sedikitnya satu kali, Soeharto datang menemui Daryatmo. Di sana dia minta petunjuk khusus apa yang harus dijalankannya. "Dan semua petunjuk dari sang dukun itu pasti dilakukan."
DENDAM KEPADA MAJIKAN
Ketika di Wonogiri, Soeharto kecil hidup miskin. Bahkan pernah menjadi pembantu pada keluarga kaya. Ketika menjadi pembantu itu Soeharto bertekad menjadi orang kaya. Tekad itu dibentuk oleh dendamnya yang kuat. Dia dendam karena keluarga kaya yang jadi majikannya itu memperlakukannya tidak baik. Soeharto tidak digaji dan makan dari makanan sisa sang majikan.
Dendam untuk menjadi orang kaya itu pula yang mengantar Soeharto berjuang, berpindah-pindah tempat, sampai akhirnya menemukan 'orang tua' yang menyekolahkannya dan kemudian berkarier di militer melalui KNIL.
MENGERTI DIRINYA CINA

Prediksi Soal Biologi UAN SMA 2008

Ini adalah Prediksi soal Biologi UN 2008. Soal Prediksi Biologi ini telah kami upload dan dapat di download.
Seperti Mata pelajaran khusus IPA yang lain, Biologi juga termasuk dalan mata pelajaran yang diujikan dalam ujian akhir nasional tingkat sekolah. Sehingga ada kemungkinan bahwa soal di setiap daerah bahkan di setiap sekolah dapat berbeda.
Namun demikian, Prediksi soal ini tetap dapat digunakan sebagai bahan latihan dalam mengerjakan ujian mata pelajaran Biologi.
Anda dapat mendownload soal Prediksi Biologi UAN IPA SMA 2008 ini melalui link di bawah ini:

Rabu, 05 Maret 2008

Bojonegoro Terkepung Banjir

Banjir yang melanda Kota Bojonegoro, Jawa Timur, akibat meluapnya Bengawan Solo belum juga surut. Dari pantauan udara pada Ahad (30/12) menunjukkan hampir 70 persen wilayah Bojonegoro yang berbatasan dengan wilayah Cepu, Jawa Tengah, teredam air. Bahkan di sejumlah kawasan, ketinggian air terus bertambah.

Akses jalan ke Kota Bojonegoro juga terputus. Praktis kegiatan perekonomian lumpuh. Untuk sementara waktu, PLN memutuskan jaringan listrik. Sejauh ini, bantuan berupa bahan makanan seperti mi instan difokuskan ke daerah yang masih terisolir seperti daerah Trucuk.

Reporter SCTV, Nastiti Lestari melaporkan banjir juga melumpuhkan jalur kereta api. Rel terendam di sejumlah titik sejak Jumat kemarin. Akibatnya, jalur Jakarta-Surabaya terputus. PT KAI masih berusaha memperbaiki rel. Perbaikan ditargetkan selesai dalan dalam seminggu. Perjalanan saat ini dialihkan melalui jalur selatan melalui Solo dan Semarang.

Bojonegoro telah berubah menjadi hamparan air. Tak terhitung jumlah rumah yang terendam. Ratusan bahkan ribuan hektare sawah terendam. Banyak warga yang tak sempat menyelamatkan barang berharga mereka karena banjir datang tiba-tiba [baca: Ngawi Surut, Banjir di Bojonegoro Meluas].

Uniknya, sebagian warga justru menganggap bencana ini sebagai fenomena alam tersendiri. Mereka sengaja datang untuk menyaksikan langsung air menghampar sejauh mata. Sebagian lainnya berenang-renang di dinginnya air. Maklum, baru kali ini kawasan tersebut dilanda banjir besar.

Ratusan warga Kota Bojonegoro sementara ini mengungsi di Masjid Baiturachman yang berada di alun-alun kota. Sebagian besar adalah orang tua dan anak-anak. Kondisi kesehatan pengungsi masih relatif stabil.

Korupsi BLBI Gotong Royong

KEPAK sayap kupu-kupu di sudut desa di Jamaika bisa menerbitkan badai angin di belahan bumi lain nun jauh di Texas sana. Ingatan tentang kalimat terkenal dalam perbincangan tentang teori chaos itu muncul di kepala pengacara muda, Harry Ponto, pada tahun 1997.

PERNYATAAN itu melukiskan gambaran tentang esensi chaos, dikenal dengan istilah "efek kepakan sayap kupu-kupu" (butterfly effect). Saat itu, Harry, yang sedang berada di Amerika Serikat untuk menjalani studi hukum ekonomi, berbincang- bincang di teras rumah induk semangnya, seorang bekas senator di Florida.

Pada masa itu, di AS pun, telepon seluler (ponsel) masih jarang dipakai orang. Namun, ponsel sudah bisa didapat di sana hanya dengan 50 dollar AS, tutur Harry mengawali cerita.

Harry bertutur kepada sang senator bahwa di negerinya, di Indonesia, ponsel itu hanya bisa didapat dengan harga Rp 15 juta. Harga yang sangat mahal. Untuk ukuran nilai tukar dollar AS masa itu Rp 2.400 per dollar AS, ponsel yang seharga Rp 15 juta itu senilai dengan 6.250 dollar AS. Jangan lupa harga sebuah mobil baru kelas menengah yang cuma 10.000 dollar AS. Namun, orang berlomba memiliki ponsel.

Masih menurut kisah Harry, senator itu terlonjak. "Jika aku jadi kamu, aku akan berdemonstrasi di depan istana negaramu untuk memprotes orang berlomba membeli gaya hidup senilai 6.250 dollar AS itu. Sebab, seandainya kamu menjalani gaya hidup semahal itu, pasti ada orang-orang yang harus membayar gaya hidupmu itu," kata si senator yang ditirukan Harry.

"Jika kamu bos perusahaan, kamu akan menaikkan harga barang produksimu agar mendapatkan keuntungan bagi usahamu membiayai gaya hidup. Kalau tidak bisa, kamu akan korupsi. Mencuri uang pajak atau menekan upah buruhmu, bahkan jika perlu, sedemikian rendahnya upahnya sampai bayi buruhnya tidak bisa lagi minum susu. Memiliki ponsel membuat orang merampas hak bayi memperoleh susu," kisah Harry menuturkan komentar senator itu dengan nada tinggi.

Sebuah tindakan yang tampak sepele, misalnya membeli ponsel supermahal, memilih warna permen mobil mewah, memilih posisi apartemen agar berhadapan dengan kolam renang, seperti kepakan sayap kupu-kupu dalam teori chaos, bisa membuat susu terampas dari mulut bayi anak-anak buruh, lapisan terendah dalam struktur sosial.

Korupsi BLBI Gotong Royong

KEPAK sayap kupu-kupu di sudut desa di Jamaika bisa menerbitkan badai angin di belahan bumi lain nun jauh di Texas sana. Ingatan tentang kalimat terkenal dalam perbincangan tentang teori chaos itu muncul di kepala pengacara muda, Harry Ponto, pada tahun 1997.

PERNYATAAN itu melukiskan gambaran tentang esensi chaos, dikenal dengan istilah "efek kepakan sayap kupu-kupu" (butterfly effect). Saat itu, Harry, yang sedang berada di Amerika Serikat untuk menjalani studi hukum ekonomi, berbincang- bincang di teras rumah induk semangnya, seorang bekas senator di Florida.

Pada masa itu, di AS pun, telepon seluler (ponsel) masih jarang dipakai orang. Namun, ponsel sudah bisa didapat di sana hanya dengan 50 dollar AS, tutur Harry mengawali cerita.

Harry bertutur kepada sang senator bahwa di negerinya, di Indonesia, ponsel itu hanya bisa didapat dengan harga Rp 15 juta. Harga yang sangat mahal. Untuk ukuran nilai tukar dollar AS masa itu Rp 2.400 per dollar AS, ponsel yang seharga Rp 15 juta itu senilai dengan 6.250 dollar AS. Jangan lupa harga sebuah mobil baru kelas menengah yang cuma 10.000 dollar AS. Namun, orang berlomba memiliki ponsel.

Masih menurut kisah Harry, senator itu terlonjak. "Jika aku jadi kamu, aku akan berdemonstrasi di depan istana negaramu untuk memprotes orang berlomba membeli gaya hidup senilai 6.250 dollar AS itu. Sebab, seandainya kamu menjalani gaya hidup semahal itu, pasti ada orang-orang yang harus membayar gaya hidupmu itu," kata si senator yang ditirukan Harry.

"Jika kamu bos perusahaan, kamu akan menaikkan harga barang produksimu agar mendapatkan keuntungan bagi usahamu membiayai gaya hidup. Kalau tidak bisa, kamu akan korupsi. Mencuri uang pajak atau menekan upah buruhmu, bahkan jika perlu, sedemikian rendahnya upahnya sampai bayi buruhnya tidak bisa lagi minum susu. Memiliki ponsel membuat orang merampas hak bayi memperoleh susu," kisah Harry menuturkan komentar senator itu dengan nada tinggi.

Sebuah tindakan yang tampak sepele, misalnya membeli ponsel supermahal, memilih warna permen mobil mewah, memilih posisi apartemen agar berhadapan dengan kolam renang, seperti kepakan sayap kupu-kupu dalam teori chaos, bisa membuat susu terampas dari mulut bayi anak-anak buruh, lapisan terendah dalam struktur sosial.

Korupsi BLBI Gotong Royong

KEPAK sayap kupu-kupu di sudut desa di Jamaika bisa menerbitkan badai angin di belahan bumi lain nun jauh di Texas sana. Ingatan tentang kalimat terkenal dalam perbincangan tentang teori chaos itu muncul di kepala pengacara muda, Harry Ponto, pada tahun 1997.

PERNYATAAN itu melukiskan gambaran tentang esensi chaos, dikenal dengan istilah "efek kepakan sayap kupu-kupu" (butterfly effect). Saat itu, Harry, yang sedang berada di Amerika Serikat untuk menjalani studi hukum ekonomi, berbincang- bincang di teras rumah induk semangnya, seorang bekas senator di Florida.

Pada masa itu, di AS pun, telepon seluler (ponsel) masih jarang dipakai orang. Namun, ponsel sudah bisa didapat di sana hanya dengan 50 dollar AS, tutur Harry mengawali cerita.

Harry bertutur kepada sang senator bahwa di negerinya, di Indonesia, ponsel itu hanya bisa didapat dengan harga Rp 15 juta. Harga yang sangat mahal. Untuk ukuran nilai tukar dollar AS masa itu Rp 2.400 per dollar AS, ponsel yang seharga Rp 15 juta itu senilai dengan 6.250 dollar AS. Jangan lupa harga sebuah mobil baru kelas menengah yang cuma 10.000 dollar AS. Namun, orang berlomba memiliki ponsel.

Masih menurut kisah Harry, senator itu terlonjak. "Jika aku jadi kamu, aku akan berdemonstrasi di depan istana negaramu untuk memprotes orang berlomba membeli gaya hidup senilai 6.250 dollar AS itu. Sebab, seandainya kamu menjalani gaya hidup semahal itu, pasti ada orang-orang yang harus membayar gaya hidupmu itu," kata si senator yang ditirukan Harry.

"Jika kamu bos perusahaan, kamu akan menaikkan harga barang produksimu agar mendapatkan keuntungan bagi usahamu membiayai gaya hidup. Kalau tidak bisa, kamu akan korupsi. Mencuri uang pajak atau menekan upah buruhmu, bahkan jika perlu, sedemikian rendahnya upahnya sampai bayi buruhnya tidak bisa lagi minum susu. Memiliki ponsel membuat orang merampas hak bayi memperoleh susu," kisah Harry menuturkan komentar senator itu dengan nada tinggi.

Sebuah tindakan yang tampak sepele, misalnya membeli ponsel supermahal, memilih warna permen mobil mewah, memilih posisi apartemen agar berhadapan dengan kolam renang, seperti kepakan sayap kupu-kupu dalam teori chaos, bisa membuat susu terampas dari mulut bayi anak-anak buruh, lapisan terendah dalam struktur sosial.

Bojonegoro Terkepung Banjir

Banjir di Ngawi, Jawa Timur, Ahad (30/12) siang, sudah surut. Cuaca cerah bahkan cukup panas. Kondisi ini dimanfaatkan warga seperti di Dusun Dungus, Ngawi, untuk mulai membersihkan rumah dan barang-barang mereka dari lumpur sisa banjir. Demikian laporan reporter Liputan 6 SCTV Nastiti Lestari.

Saat ini, warga masih kesulitan air bersih. Ini disebabkan aliran air dari perusahaan air minum setempat belum mengalir. Di tambah lagi listrik mati karena ada sebagian wilayah yang masih terendam banjir.

Sementara itu, sebagian korban banjir yang merupakan umat Kristiani pagi tadi sudah beribadah di Gereja Behtel Indonesia (GBI) di Jalan dokter Wahidin. Gereja ini sempat terendam banjir sekitar setinggi dua meter. Menurut Stephanus Djoko, pendeta GBI, jemaat sepakat untuk membatalkan Natal yang seharusnya dirayakan pada 27 Desember 2007. Mereka bakal menggunakan dana Natal untuk bakti sosial bagi korban banjir.

Berbeda dengan Ngawi, banjir di Kota Bojonegoro justru semakin meluas dengan ketinggian air lebih dari semeter. Ini disebabkan tanggul penahan banjir Sungai Bengawan Solo yang jebol sejak kemarin belum bisa diperbaiki.

Kondisi ini memaksa warga mengungsi ke lokasi yang lebih aman atau ke rumah saudara. Terbatasnya jumlah perahu karet membuat proses evakuasi, terutama di daerah yang paling parah, seperti Ledok Kulon dan Ledok Wetan. Hingga siang ini, tim Badan SAR Nasional (Basarnas) dan satuan koordinasi pelaksana Pemerintah Kabupaten Bojonegoro terus memberikan bantuan bahan makanan kepada pengungsi di sejumlah desa yang masih terisolir akibat banjir,

Bojonegoro Terkepung Banjir

Banjir yang melanda Kota Bojonegoro, Jawa Timur, akibat meluapnya Bengawan Solo belum juga surut. Dari pantauan udara pada Ahad (30/12) menunjukkan hampir 70 persen wilayah Bojonegoro yang berbatasan dengan wilayah Cepu, Jawa Tengah, teredam air. Bahkan di sejumlah kawasan, ketinggian air terus bertambah.

Akses jalan ke Kota Bojonegoro juga terputus. Praktis kegiatan perekonomian lumpuh. Untuk sementara waktu, PLN memutuskan jaringan listrik. Sejauh ini, bantuan berupa bahan makanan seperti mi instan difokuskan ke daerah yang masih terisolir seperti daerah Trucuk.

Reporter SCTV, Nastiti Lestari melaporkan banjir juga melumpuhkan jalur kereta api. Rel terendam di sejumlah titik sejak Jumat kemarin. Akibatnya, jalur Jakarta-Surabaya terputus. PT KAI masih berusaha memperbaiki rel. Perbaikan ditargetkan selesai dalan dalam seminggu. Perjalanan saat ini dialihkan melalui jalur selatan melalui Solo dan Semarang.

Bojonegoro telah berubah menjadi hamparan air. Tak terhitung jumlah rumah yang terendam. Ratusan bahkan ribuan hektare sawah terendam. Banyak warga yang tak sempat menyelamatkan barang berharga mereka karena banjir datang tiba-tiba.

Cerita di Balik Mundurnya Soeharto

TANGGAL 21 Mei 1998, pukul 09.00 WIB, semua perhatian tertuju ke credentials room di Istana Merdeka, Jakarta. Saat itu, Presiden Soeharto mengumumkan pengunduran dirinya. Dalam pidato yang singkat, Soeharto antara lain mengatakan, Saya memutuskan untuk menyatakan berhenti dari jabatan saya sebagai Presiden RI, terhitung sejak saya bacakan pernyataan ini pada hari ini, Kamis 21 Mei 1998.

Pengumuman pengunduran diri Soeharto Kamis pagi itu sesungguhnya tidaklah terlalu mengejutkan, karena sehari sebelumnya sudah ramai dibicarakan bahwa Presiden Soeharto akan mengundurkan diri. Yang menjadi pertanyaan, apa yang mendorong Soeharto akhirnya memutuskan untuk mundur? Karena, beberapa hari sebelumnya, Soeharto masih yakin dapat mengatasi keadaan.

Kejutan ke arah mundurnya Soeharto diawali oleh keterangan pers Ketua DPR/MPR Harmoko usai Rapat Pimpinan DPR, Senin (18/5) lalu.

Tanggal 18 Mei 1998

Pukul 15.20 WIB, Harmoko di Gedung DPR, yang dipenuhi ribuan mahasiswa, dengan suara tegas menyatakan, demi persatuan dan kesatuan bangsa, pimpinan DPR, baik Ketua maupun para Wakil Ketua, mengharapkan Presiden Soeharto mengundurkan diri secara arif dan bijaksana. Harmoko saat itu didampingi seluruh Wakil Ketua DPR, yakni Ismail Hasan Metareum, Syarwan Hamid, Abdul Gafur, dan Fatimah Achmad.

Namun, kejutan yang disambut gembira oleh ribuan mahasiswa yang mendatangi Gedung DPR itu, tidak berlangsung lama. Karena malam harinya, pukul 23.00 WIB Menhankam/ Panglima ABRI Jenderal TNI Wiranto mengemukakan, ABRI menganggap pernyataan pimpinan DPR agar Presiden Soeharto mengundurkan diri itu merupakan sikap dan pendapat individual, meskipun pernyataan itu disampaikan secara kolektif.

Walaupun sikap ABRI itu disampaikan setelah Wiranto memimpin rapat kilat dengan para Kepala Staf Angkatan dan Kapolri serta para panglima komando, tetapi diketahui bahwa pukul 17.00 WIB Panglima ABRI bertemu dengan Presiden Soeharto di kediaman Jalan Cendana. Dengan demikian, muncul dugaan bahwa apa yang dikemukakan Wiranto itu adalah pendapat Presiden Soeharto.

Pukul 21.30 WIB, empat Menko diterima Presiden Soeharto di Cendana untuk melaporkan perkembangan. Mereka juga berniat menggunakan kesem-patan itu untuk menyarankan agar Kabinet Pembangunan VII dibubarkan saja, bukan di-reshuffle. Tujuannya, agar mereka yang tidak terpilih lagi dalam kabinet reformasi tidak terlalu "malu". Namun, niat itu - mungkin ada yang membocorkan - tampaknya sudah diketahui oleh Presiden Soeharto. Ia langsung mengatakan, "Urusan kabinet adalah urusan saya." Akibatnya, usul agar kabinet dibubarkan tidak jadi disampaikan. Pembicaraan beralih pada soal-soal yang berkembang di masyarakat.

Tanggal 19 Mei 1998

Pukul 09.00-11.32 WIB, Presiden Soeharto bertemu ulama dan tokoh masyarakat, yakni Ketua Umum PB Nahdlatul Ulama Abdurrahman Wahid, budayawan Emha Ainun Nadjib, Direktur Yayasan Paramadina Nucholish Madjid, Ketua Majelis Ulama Indonesia Ali Yafie, Prof Malik Fadjar (Muhammadiyah), Guru Besar Hukum Tata Negara dari Universitas Indonesia Yusril Ihza Mahendra, KH Cholil Baidowi (Muslimin Indonesia), Sumarsono (Muhammadiyah), serta Achmad Bagdja dan Ma'aruf Amin dari NU.

Usai pertemuan, Presiden Soeharto mengemukakan, akan segera mengadakan reshuffle Kabinet Pembangunan VII, dan sekaligus mengganti namanya menjadi Kabinet Reformasi. Presiden juga membentuk Komite Reformasi. Nurcholish sore hari mengungkapkan bahwa gagasan reshuffle kabinet dan membentuk Komite Reformasi itu murni dari Soeharto, dan bukan usulan mereka.

Dalam pertemuan ini, sesungguhnya tanda-tanda bahwa Soeharto akan mengundurkan diri sudah tampak. Namun, ada dua orang yang tidak setuju bila Soeharto menyatakan mundur, karena dianggap tidak akan menyelesaikan masalah.

Pukul 16.30 WIB, Menko Ekuin Ginandjar Kartasasmita bersama Menperindag Mohamad Hasan melaporkan kepada Presiden soal kerusakan jaringan distribusi ekonomi akibat aksi penjarahan dan pembakaran. Bersama mereka juga ikut Menteri Pendayagunaan BUMN Tanri Abeng yang akan melaporkan soal rencana penjualan saham BUMN yang beberapa peminatnya menyatakan mundur.

Pada saat itu, Menko Ekuin juga menyampaikan reaksi negatif para senior ekonomi; Emil Salim, Soebroto, Arifin Siregar, Moh Sadli, dan Frans Seda, atas rencana Soeharto membentuk Komite Reformasi dan me-reshuffle kabinet. Mereka intinya menyebut, tindakan itu mengulur-ulur waktu.